Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2012

TAK JADI BERHAJI DEMI PERUT TETANGGA

Oleh H. Usep Romli H.M. (PR : 15 Ramadan 1432 H / 15 Agustus 2011)
Seusai musim haji, Abdullah bin Mubarak, seorang ulama termasyhur abad ke-12 (1118 M/797 H) tertidur dekat Multazam. Ia seolah-olah mendengar dua malaikat bercakap-kacap, “Ada enam ratus ribu jemaah haji tahun ini. Namun, tidak seorang pun yang mabrur, yang hajinya diterima,” kata malaikat yang satu.
“Ada, seorang. Walaupun tidak datang kesini, tetapi Allah SWT. Berkenan memberinya ganjaran haji mabrur,” kata malaikat yang satu lagi.
“Siapa dia?”
“Ali al Muwaffaq, tukang sepatu miskin di Damaskus.”
Abdullah bin Mubarrak terkejut. Begitu bangun, segera bersuci. Segera melaksanakan tawaf wada dan segera berangkat ke Damaskus, ingin bertemu Ali al Muwaffaq. Ingin tahu amal apa yang ia lakukan sehingga mendapat ganjaran haji mabrur tanpa datang ke Mekkah. Padahal enam ratus ribu orang yang melakukan wukuf di Arafah, jumrah di Mina dan rukun serta wajib haji lain, malah mardud. Tertolak hajinya.
Setelah Abdullah bersusah payah menempuh perjalanan Mekah-Damaskus, juga berkeliling ke seluruh pelosok kota bekas pusat Dinasti Umayyah (610-750 M) itu. Akhirnya Ali al Muwaffaq dapat dijumpai. Sehabis mengucapkan salam dan istirahat sebentar, Abdullah memohon agar Ali al Muwaffaq mengisahkan amal perbuatan yang menyebabkannya mendapat ganjaran haji mabrur tanpa mengikuti ritus haji di Mekah pada saatnya.
Semula, Ali bungkam membisu. Namun, setelah terus didesak, akhirnya dia mau juga berbicara :
“Tiga puluh tahun aku menabung untuk mengumpulkan biaya perjalanan haji. Sangat susah payah mengingat penghasilanku sebagai pembuat sepatu, amat  minim. Tahun ini tabunganku genap 350 dirham. Cukup untuk sekedar bekal dengan cara menghemat dan sederhana. Nah, semalam sebelum keberangkatan, istriku sedang mengidam, mencium harum masakan dari rumah tetangga sebelah. Ia merengek-rengek agar aku memintakan sedikit daja dari hidangan yang menggiurkan itu.”
“Maka ku datangi rumah tetanggaku. Seorang janda miskin dengan tiga anak kecil-kecil. Kuketuk pintu dan kuucapkan salam, sambil mnerangkan maksud kedatanganku membawa keinginan dari istriku yang sedang mengidam. Ia tampak terkejut, lalu berkata pelan. “Saudara Ali, memang aku sedang memasak daging unta. Akan tetapi, itu hanya halal bagiku dan anak-anak. Bagimu dan istrimu haram.” Mengapa? Aku tak kalah terkejut.
“Kami sudah tiga hari tidak makan. Hampir mati kelaparan. Tadi pagi anakku menemukan bangkai unta tergeletak dibawah rumpun. Kami kerat daging pahanya, dan kami masak sekedar menghilangkan rasa lapar,” jawabnya.
Mendengar itu aku berlari pulang, kuambil 350 dirham untuk bekal haji. Ku berikan keada tetangga yang terpaksa memakan bangkai daging unta. Aku ingat sabda Rasulullah saw. Yang menyatakantidak akan masuk surga orang yang tidur dengan perut kekenyangan sedangkan tetangganya kelaparan. Biarlah akau tidak jadi berhaji tahun ini, asal tetanggaku tertolong,” Ali al Muwaffaq mengakhiri kisahnya.
Abdullah bin Mubarrak meneteskan air matanya dan bergumam, “Malaikat-malaikat itu berbicara benar dalam mimpiku, dan Penguasa Alam Semesta benar-benar Maha Adil pertimbangan-Nya. Sumber : “Kitab Tadzkiratul Aulia” Fariduddin Attar (1110-1220 M).

SUFI KAYA DAN SUFI MISKIN


Oleh Soeroso Dasar (PR : 11 Ramadan 1432 H / 11 Agustus 2011)

Syahdan pada suatu masa, hidup seorang syekh yang sangat sederhana, bahkan cenderung memelas di jazirah Arab. Syekh itu dikenal dan dicintai oleh masyarakat bukan karena harta dan tampannya, melainkan budi pekertinya. Shari-hari, ia adalah seorang nelayan yang pergi menangkap ikan di laut.
Sepulangnya dari laut, sang syekh langsung membersihkan ikan hasil tangkapannya. Semua daging ikan dibagikan kepada para kerabat dan tetangga, sedangkan kepala dan tulang ikan disisakan untuk dimakan sendiri.karena sifatnya begitu sosial dan hanya memakan kepala ikan, ia dikenal dengan panggilan syekh kepala ikan.
Syekh adalah seorang sufi, menggelar pengajian dan mempunyai banyak santri. Setelah kembali dari melaut, ia berubah fungsi menjadi guru ngaji. Suatu ketika, menjelang masa liburan, seorang santrinya ingin pergi ke Mursia (Spanyol), yang secara kebetulan sang syekh pernah berguru disana.
Ketika santrinya menyampaikan hasrat untuk pergi ke Mursia, syekh menjawab, “Disana ada guruku, dan tolong kamu mampir ke tempat guruku nanti,” kata syekh kepala ikan. Haripun berlalu dan berganti bulan. Sang santri pergi ke Mursia dan tidak lupa mampir ke rumah guru syekh kepala ikan.
Apa yang terjadi? Santri terkejut karena ternyata ia sudah berada di sebuah rumah yang mirip istana. Mungkinkan seorang sufi hidup di rumah demikian megah dengan segala ornamen, pelayan cantik, dan sajian begitu lezat?
Masih dalam keadaan kebingungan mencari jawaban, setelah menyantap hidangan, santri pun berpamitan pulang. Sang empunya rumah berkata, “Bagaimana? Apa kabar gurumu syekh kepala ikan itu?” “Alhamdulillah sehat, salam dari guru kamu syekh kepala ikan,” jawab santri. Lantas sang empunya rumah berkata, “Sampaikan salam saya, dan katakan kepada gurumu jangan terlalu memikirkan dunia.”
Ucapan guru syekh kepala ikan terakhir ini membuat santri semakin bingung sepanjang jalan saat pulang dari Mursia. Mungkinkah seorang yang begitu kaya raya pantas mengatakan kepada orang miskin dan bersahaja agar ia jangan terlalu memikirkan dunia?
Lebih membingungkan lagi, ketika ucapan gurunya disampaikan kepada syekh kepala ikan, ia mengatakan ucapan gurunya itu benar. “Menjalani hidup sebagai seorang sufi bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting hati kita tidak terikat oleh harta, dan tetap terpaut kepada Alah,“ ucap syekh kepala ikan.
Kemudian diketahui, syekh akbar gurunya syekh kepala ikan adalah Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi, seorang sufi besar dan cukup cemerlang dalam sejarah perkembangan tasawuf. Kisah ini secara tegas menggambarkan dua hal. Pertama, menjadi orang kaya tidak berarti harus jauh dari kehidupan sufi. Kedua, menjadi seorang miskin tidak otomatis mendekatkan dia pada kehidupan sufistik.
Penggalan kisah seorang sufi yang menggetarkan hati disampaikan oleh sahabt penulis Dr. H. Darun Setiadi, seorang sosiolog, dosen, dan peneliti senior di UIN Bandung, dalam diskusi dengan penulis di Laboratorium Manajemen Fakultas Ekonomi Unpad, beberapa waktu lalu.
Kita sepakat, kehidupan tasawuf adalah membiarkan tangan sibuk mengurus dunia, hati sibuk mengingat Allah SWT. Kegiatan duniawi tidaklah buruk, yang buruk itu adalah gara-gara kegiatan duniawi membuat lupa dan abai kepada Allah SWT. Memang selama ini telah terjadi perdebatan, mana yang lebih baik orang kaya yang selalu bersyukur serta membantu kepentingan orang banyak, atau orang miskin yang sabar dengan kemiskinannya? Rasulullah saw. Pernah bersabda, “Sebaik-baiknya umatku adalah yang bermanfaat untuk orang lain.”
Sungguh sayang, mencari figur seperti syekh kepala ikan saat ini begitu sulit, bahkan tidak ada sama sekali. Yang ada adalah orang-orang yang menggendutkan perutnya sendiri di tengah begitu banyak rakyat jelata.
Cukup sulit juga untuk mencari orang seperti Muhyi al-Din ‘Arabi, yang tangannya di atas membantu orang tanpa pamrih. Kalaulah perilaku dan pribadi seperti kedua mereka banyak hadir di tengah proses pembangunan bangsa, rasanya kondisi kita tidak akan separah ini.
Begitu banyak hrta rakyat lenyap dirampok mereka yang tidak bertanggung jawab. Padahal, bila dana itu utuh, baik dalam proses pemungutan maupun pendistribusiannya,  tentu bermanfaat bagi pembangunan dan peningkatan peradaban manusia. Semoga ramadan ini mampu mengetuk hati mereka, bahwa bermanfaat bagi orang lain adalah manusia terbaik di kaki langit.

SEDEKAH YANG DISESALI

Oleh UST. Yusuf Mansur (PR : 2 Ramadan 1432 H / 2 Agustus 2011)
Diriwayatkan, seorang shahababiyah (kalangan sahabat Nabi dari perempuan) baru saja kehilangan suaminya. Setelah upacara pemakaman, masih dengan suasana hati yang diliputi dukacita ia mendekat ke sisi Nabi saw. Dan bertanya dengan setengah berbisik.
Ya Rasulullah, di detik-detik menjelang kepergian suamiku, dalam sekaratnya ia memberikan isyarat supaya aky mendekat. Akupun mendekatkan diri kepadanya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakannya.
Akan tetapi, yang aku dengar adalah ucapan-ucapan yang sama sekali tidak aku mengerti. Ia berkata, “Ah seandainya yang baru, ah seandainya semuanya, dan ah seandainya masih jauh”.
Apakah ucapan suami saya itu semacam wasiat ya Rasulullah? Akan tetapi, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan.
Rasulullah terdiam sejenak sembari tersenyum  beliau bersabda, “Pernah suatu hari, suamimu berbelanja ke pasar. Ia membeli sebuah mantel baru. Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia melihat seseorang yang duduk terpojok di sudut jalan. Ia meringkuk tampak sangat kedinginan. Suamimu menjadi iba dan kemudian memberikan mantelnya yang lama.
Dalam sekaratnya, ia diperlihatkan oleh Allah swt. Balasan pahala dari amalannya itu. Ketika melihat penampakan balasan dari Allah, sekonyong-konyong timbul rasa sesal dalam dirinya. Mengapa ia tidak memberikan saja mantelnya yang baru, tentu balasan dari Allah akan lebih besar. Ia pun berkata, ah, seandainya yang baru!
Nabi saw. Melanjutkan, “Pernah suatu hari lagi, suamimu kembali dari pasar. Rezeki yang ia dapatkan hari itu ia belikan sepotong roti. Ia berencana membawakannya untukmu dan keluarga. Namun, dalam perjalanan, ia melihatseseorang yang terbaring lemah karena lapar. Ia pun menjadi iba dan memberikan sebagian roti kepada seseorang yang berbaring itu. Sebagiannya lagi ia bawa pulang.
Dalam sekaratnya, ia diperlihatkan oleh Allah balasan dari amalannya itu. Ia pun kembali menyesal, andaikan saja ia memberikan semuanya, pasti balasan Allah lebih besar lagi. Ia pun berkata, “Ah seandainya semuanya.”
Selanjutnya, “Dihari yang lain, suamimu dalam perjalanan menuju masjid, dengan arah yang sama ditemuinya seorang tua yang tampak kepayahan dan tertatih-tatih melangkahkan kakinya. Suamimu pun menawarkan diri untuk membantu dan digendongnya orang tua yang lemah itu menuju masjid. Ketika diperlihatkan oleh Allah balasan dari amalan perbuatannya itu, ia kembali menyesal dan berharap seandainya masjid itu lebih jauh, ia akan mendapat pahala yang lebih banyak. Dalam penyesalannya itu ia berkata, “Ah, seandainya masih jauh.”

SEBUNGKUS MAKANAN UNTUK ORANG LAPAR

Oleh H. Usep Romli H.M. (PR : 6 Ramadan 1432 H / 6 Agustus 2011)
Tersebutlah kisah seorang ahli ibadah. Selama tujuh puluh tahun, ia tak pernah meninggalkan tempat rukuk dan sujudnya. Ia senantiasa berdzikir dan menyepi memuji Allah swt. Karena ketekunannya itu, orang-orang menganggapnya sebagai ahli surga.
Namun, pada suatu saat, ia terjebak ke dalam perbuatan maksiat. Semua bermula dari rasa was-was dan jenuh. Sebagai manusia, memang ia tidak luput dari kekhilafan. Al Insaanu Mahallu-Ikhathaa’ wannisyaan (manusia merupakan tempatnya salah dan lupa). Tujuh hari sudah ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai ibadahnya selama tujuh puluh tahun tersebut.
Ketika muncul kesadaran, segera ia bertobat. Tempat beribadah selama tujuh puluh tahun itu ia tinggalkan. Sang ahli ibadah berjalan kemana saja, sambil menyesali perbuatan dosa yang ia kerjakan selama tujuh hari itu. Di tengah perjalanan, ia kehabisan bekal. Berhari-hari ia puasa. Untuk berbuka, ia hanya mengandalkan air minum di pinggir jalan yang ia lalui.
Syahdan, tibalah ia di suatu tempat saat seorang dermawan menyumbangkan makanan kepada fakir miskin. Ia mendapat bagian. Sebungkus makanan terakhir. Tiba-tiba, datanglah seorang tua yang tengah kelaparan. Namun, tempat pembagian sudah tutup. Semburat kesedihan tertampak jelas diwajah si oarang tua. Tampaknya juga rasa penyesalan karena ia datang terlambat.  Bagaimana dapat berjalan cepat jika tubuh lesu lunglai?
Menyaksikan keadaan demikian, sang ahli ibadah yang sedang bertobat itu meneyrahkan bungkusan miliknya kepada orang tua kelaparan itu. Ia berkata, “ini makanan  rezeki anda, wahai pak tua. Makanlah agar anda kembali bertenaga”.
Beberapa waktu kemudian, sang ahli ibadah itu wafat. Di akhirat, ternyata timbangan amal ibadahnya selama tujuh puluh tahun itu kalah berat dibandingkan dengan dosa kemaksiatan yang ia lakukan meskipun hanya selama tujuh hari. Namun, pahala memberikan sebungkus makanan kepad orang tua yang kelaparan, ternyata lebih berat lagi. Pahala itu mampu menghapus dosa maksiat tujuh hari yang menodai tujuh puluh tahun ibadahnya.
Orang-orang menyangka, ia sebagai ahli surga berkat ketekunan ibadah selama tujuh puluh tahun. Tak ada yang menyangka bahwa ia menjadi ahli surga lantaran kemurahannya membebaskan si orang tua dari kelaparan meskipun dengan sebungkus makanan. (Dari kitab Sifatu-shshafwah karya Imam Abdurrahman Ibn Aljauzi).

Sebuah Peringatan kepada Penguasa

Oleh H. Usep Romli H.M. (PR : 23 Ramadan 1432 H / 23 Agustus 2011)
Kejayaan umat Islam mulai menampakkan gejala kemerosotan pada abad 5-6 Hijriyah (11-12). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, kebudayaan, dan militer, yang tersebar dari Bagdad (Dinansti Abbassiyah) dan Spanyol (Dinasti Umayyah Andalusia), tidak diimbangi oleh ketahanan moral.
Kebobrokkan akhlak tersebar di segala bidang kehidupan. Ketinggian material menyeret manusia kembali ke perilaku jahil. Padahal, perjuangan Nabi Muhammad saw. Menghapus kebodohan mental spiritual, sebagaimana sabdanya, ”Innama buitstu li utami makarimal akhlak” (sesungguhnya aku diutus untuk mewujudkan akhlak mulia).
Para sejarawan klasik, seperti Ibnu Katsir (abad 13), penulis kitab Bidayah wan Nihayah, Ibnu Atsir (abad 13), penulis Tarikh Bagdad menggambarkan situasi muram itu. Islam hanya dijadikan seremoni dan simbol belaka. Banyak tokoh menyandang nama yang dinisbahkan kepada Allah SWT, Muhammad Rasulullah saw. Dan Islam – seperti Alallah, Muhammad, Dien – tetapi tak disertai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan, nama-nama tersebut cenderung sekadar untuk menutupi kemaksiatan yang merajalela. Terutama korupsi, kolusi, nepotisme, hura-hura bermewah-mewah. Sementara rakyat dibiarkan dalam keadaan menderita, kelaparan, dan kehausan.
Solidaritas, kedermawanan, belas kasih benar-benar telah lenyap. Ketika rakyat berjalan kian kemari mencari setitik air, para elite negeri malah menghambur-hamburkan air untuk menyiram taman mereka, membasahi gelas kristal pada pesta mereka.
Menyaksikan hal itu, bangkitlah Imam Ghazali (450 – 505 H./1058-111 M). Ulama terkenal zuhud (sederhana) dan wara (bersih) ini menulis surat kepada Mujiruddin, Gubernur Thus yang merupakan kepercayaan Sultan Maliksyah, penguasa Khurasan, kawasan otonomi Bagdad. “Jangan terlambat mengumpulkan kebajikan untuk bekal hidup di akhirat kelak,” tulis Al Ghazali.
“Kebajikan paling utama saat ini adalah menghapus kemiskinan dan kekejaman yang mencengkeram rakyat. Kekuasaan yang Anda genggam sangat memungkinkan bagi Anda membasmi KKN sekaligus menjunjung tinggi martabat rakyat. Sebab, rakyat adalah sumber kekuasaan dan kemakmuran negara kita.
Pasti Anda tidak tahu kondisi rakyat sekarang, mengingat pandangan, pendengaran, dan langkah Anda sudah terhalang oleh kroni-kroni yang menggelayuti rezim Anda. Padahal, sudah bukan rahasia lagi, petugas pajak yang culas, memeras massa yang  bodoh untuk kepentingan mereka pribadi. Mereka tidak memasukkan hak-hak pemerintah – yang notabene hak rakyat – ke kas negara.
Pikirkanlah rakyat, warga setia Anda yang jiwa dan raganya remuk akibat tingkah laku aparat Anda. Sementara aparat beserta  semut-semut istana, terus bermewah-mewah. Ulah Anda, para menteri, dan elite sekeliling Anda yang hanya mengharapkan tetesan manis gula, tanpa peduli derita rakyat yang tiap saat menghisap pabit empedu, merupakan salah satu ancaman bagi eksistensi negara, yang dapat meruntuhkan kemegahan Khurasan dan Bagdad hanya dalam sekejap.
Terkecuali jika Anda segera sadar dan meelakukan perbaikan menyeluruh, karena kewenangan penuh masih berada di tangan Anda. Jangan biarkan perasaan sombong, penjagaan citra, dan ketakutan kehilangan dukungan dari kroni Anda, membiarkan Anda hanyut dalam ilusi dan mimpi kemajuan bangsa dan negara.
Sadarlah, bangsa dan negara kita sudah berada di titik terendah, karena rakyat sudah lama diimpit kemiskinan dan ketidakadilan. Semoga Allah SWT menolong Anda, dan membukakan pintu anugerah-Nya bagi Anda dalam mencapai kebahagiaan duniawi dan surgawi, jika Anda mampu mendapat pencerahan jiwa dengan melepaskan diri dari buaian para kroni dan rezim yang hanya ingin memanfaatkan kekuasaan Anda dan bertindak seolah-olah melindungi dan menopang kekuasaan Anda. Padahal, mereka lemah tak punya daya.”
Menutup suratnya yang tajam dan keras, Al Ghazali mengutip Alquran, surah Al Ankabut ayat 41, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allahswt, ibarat laba-laba yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah paling lemah adalah rumah laba-laba, jika engkau mengetahui.

SANG PENGEJAR HARTA YANG MASUK SURGA

Oleh Deni Tresnahadi (PR : 20 Ramadan 1432 H / 20 Agustus 2011)
Siapapun dapat masuk surga dengan potensi yang nereka miliki. Inilah yang dibuktikan oleh Abdurrahman bin Auf. Ia memiliki latar belakang perjuangan yang berbeda dengan tiga sahabat sebelumnya. Ia adalah ahli surga yang berasal dari kalangan pebisnis. Kecerdasannya dalam berbisnis membuat segala hal yang ia lewati menjadi peluang. Bahkan, ketika memindahkan sebuah batu ia berharap di bawah batu itu terdapat emas dan perak. Betapa ia sangat bersemangat dalam mencari uang. Lalu mengapa pengejar harta seperti Abdurrahman bin Auf dapat masuk surga bersama Isa bin Maryam?
Abdurrahman bin Auf termasuk garda terdepan penerima ketauhidan yang dibawa oleh Rasulullah saw. Ia adalah sahabat Abubakar dan termasuk orang kelima yang diislamkan olehnya. Sebagai seorang pengusaha, ia tidak apatus dengan peperangan. Ia mendapatkan 20 hujaman dan giginya rontok dalam perang Uhud. Ia menyadari, pengorbanan yang harus diberikan kepada Islam bukan hanya harta tetapi juga jiwa.
Berhijrah ke Habasyah adalah salah satu tugasnya dalam menjalankan roda dakwah Rasulullah saw. Sesungguhnya hijrah yang pertama dilakukan oleh kaum Muslimin adalah ke Habasyah. Mereka berpindah karena gangguan dari kaum musyrikin Quraisy yang semakin menjadi. Ada yang menganggap kepergiannya adalah refleksidari kegentarannya menghadapi ujian keimanan. Namun, Allah swt. Menjelaskan, hijrah adalah sesuatu yang diharuskan jika tantangan di tempat asal sudah sangat besar.
Dengan kemampuannya dalam berbisnis, Abdurrahman bin Auf juga membawa seluruh kekayaannya ketika berhijrah ke Madinah. Di perjalanan kekayaannya dirampas oleh Quraisy, penguasa Mekah. Ia dan Suhaib Arrumi kehilangan seluruh harta kekayaannya.
Dalam keadaan demikian, Abdurrahman bin Auf tidak menyerah. Rasulullah saw. Mempersaudarakan orang-orang yang berhijrah yang kebanyakan pedagang dengan orang-orang asli Madinah yang mayoritas petani. Di Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad ibnu Arabi Alausani. Ia memberikan sebagian harta dan menawarinya seorang calon istri. Abdurrahman bin Auf hanya berkata, “Semoga Allah swt. Memberkahi hartamu dan keluargamu, tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.”
Abdurrahman bin Auf memang pebisnis yang andal. Dengan modal secukupnya ia berjualan keju dan minyak samin, bangkit dan mampu menikah dengan salah satu perempuan Anshor. Setelah menikah dengan memberi mahar sebutir emas (seberat sebutir kurma) Rasulullah saw. Memintanya mengadakan walimah. Ini adalah pertanda, pernikahan sesederhana apa pun harus dilanjutkan dengan walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.
Rasulullah saw. Juga sangat menghargai kemandirian Abdurrahman bin Auf dalam hal ekonomi. Rasulullah saw, bersabda, “Seorang yang mencari kayu lalu memanggulnya lebih baik daripada orang yang mengemis yang kadangkala diberi atau ditolak. (H.R. Bukhari)
Pesan ini membuat seluruh Muslimin yang ada di Madinah bangkit dan bekerja menjadi petani, pedagang, dan buruh. Tidak ada seorang pun yang menganggur, termasuk kaum perempuan.
Dalam beberapa waktu, Abdurrahman bin Auf menjadi orang kaya dan Rasulullah saw, berkata kepadanya, “Wahai Abdurrahman bin Auf, kamu sekarang menjadi orang kaya dan kamu akan masuk surga dengan merangkak(mengingsut). Pinjamkanlah hartamu agar lancar kedua kakimu”(H.R. Al-Hakim).
Pernyataan itu membuat Abdurrahman bin Auf berpikir keras dan banyak menginfakkan hartanya di jalan Allah swt. Ia berkata, “Kalau bisa aku ingin masuk surga dengan melangkah (berjalan kaki)”. Ia berlomba dengan pebisnis lain, yaitu  Ustman bin Affan dalam bersedekah. Abdurrahman bin Auf memberikan separuh hartanya untuk dakwah Rasulullah saw.
Rasulullah saw. Berkata, “Semoga Allah swt. Memebrkahi apa yang kamu tahan dan kamu berikan.“ Abdurrahman bin Auf hartanya menjadi berlipat ganda sehingga ia tak pernah merasa kekurangan.
Setelah Abdurrahman bin Auf bersedekah, turunlah firman Allah swt, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah swt. Kemudian ia tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan menyakiti perasaan(si penerima), mereka mendapat pahala di sisi Robb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula merasakan bersedih hati.”
Sebelum wafat, Abdurrahman bin Auf menginfakkan 400 dinar hartanya untuk peserta perang Badar  yang masih hidup. Setiapa orang mendapatkan 4 dinar termasuk Ali r.a. dan Ustman r.a. Ia juga memberikan hadiah kepada Umul Mukminin (janda-janda Nabi saw). Aisyah r.a. pun berdoa untuknya, “Semoga Allah swt. Memberi mi num kepadanya air dari mata air salsabila di surga”.
Abdurrahman bin Auf wafat dalam usia 75 tahun. Ia disolatkan oleh saingannya dalam berinfak di jalan Allah swt, yaitu Ustman r.a. Ia di usung oleh Sa’ad bin Abi Waqqas ke pemakaman Albaqi. Setelah Abdurrahman bin Auf wafat, Ali berkata, “Pergilah wahai Ibnu Auf, kamu telah memperoleh kejernihan dan meninggalkan kepalsuan (keburukannya)”. (H.R. Al-Hakim)
Abdurrahman bin Auf telah genap memperoleh segala kebaikan dari hartanya, dan mening-galkan segala keburukan yang ada pada harta dunia.

PENUNGGU KEBUN YANG PEMURAH

Oleh H. Usep Romli H.M. (PR : 2 Ramadan 1432 H / 2 Agustus 2011)
       Seekor anjing tersesat ke tengah perkebunan kurma di Madinah, yang sedang berbuah. Jalannya gontai, lidahnya terjulur. Tak ada secuil pun makanan ditemukan selama menempuh perjalanan jauh selama dua hari.
       Di dekat gerbang sebuah kebun, anjing itu benar-benar ambruk. Tak dapat lagi menahan lelah, lapar, dan dahaga. Seorang penjaga berkulit hitam, melihat kejadian itu. Tergerak hatinya untuk menolong. Segera ia mengambil jatah makan siang yang dikirimkan pemilik kebun. Sekerat roti, sekerat ikan, dan semangkok air.
       Ia berjongkok. Meneteskan air ke mulut anjing yang sudah hampir pingsan itu. Setetes air yang disertai ketulusan hati pemberinya, membuat sang anjing mulai bertenaga kembali. Apalagi setelah setengah mangkuk air masuk ke tenggorokannya yang kering kerontang.
       “Anjing darimana ini? Mungkin datang dari tempat jauh , sebab di sekitar sini tidak ada anjing seekor pun,” gumam penjaga kebun, sambil mengangsurkan secabik roti ke dekat mulut anjing hingga habis semua roti jatah makan siangnya. Akan tetapi, sang anjing masih terlihat lapar. Setengah mangkuk air dan sekerat roti, baru mampu memulihkan tubuhnya saja. Belum mampu mengusir rasa lapar.
       Maka sekerat ikan yang ada, segera diberikan. Juga sisa setengah mangkuk air. Barulah sang anjing kelihatan bertenaga kembali dan cukup kuat untuk berdiri. Sang anjing mengibas-ngibaskan ekornya, seolah-olah mengucapkan terima kasih kepada penjaga kebun yang pemurah itu.
       Jika dapat berbicara, sang anjing mungkin akan berkata, “Berkat kebaikanmu memberiku makan, aku selamat dari kematian akibat kelaparan.”
       Peristiwa itu disaksikan dari awal hingga akhir oleh sahabat Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, dari kebunnya yang berbatasan dengan kebun itu. Ia heran dan amat terkesan oleh sikap dan tindakan penjaga kebun tetangganya memberi makan anjing kelaparan. Segera ia datang ke tempat itu dan bertanya, “Wahai penjaga kebun, engkau memberikan jatah makan siangmu kepada anjing. Lantas apa yang akan engkau makan hingga selsesai bekerja sore nanti ?”
       “Tidak ada. Karena majikanku hanya memberiku jatah makan siang sekali itu saja,” jawab penunggu kebun.
       “Mengapa engkau berikan semua kepada seekor anjing , sementara engkau sendiri tak punya makanan lagi ?” tanya Abdullah.
       “Tidak apa. Aku masih kuat. Tidak merasa lapar. Jika anjing tadi mati kelaparan di sini, padahala aku punya makanan untuk menyelamatkannya dari kelaparan, tentu aku akan mendapat celaan di hadapan Mahkamah Allah swt. kelak,“ ucap penunggu kebun memberi alasan.
       Abdullah bin Ja’far terenyak. Ia diakui oleh para sahabat yang lain, sebagai orang pemurah. Suka membantu orang lain. Namun, dibandingkan dengan kemurahan penunggu kebun, kemurahannya selama ini, amat tidak berarti.
       Hari itu juga, Abdullah menemui pemilik kebun. Membeli kebun itu dengan harga tinggi. Setelah selesai akad jual-beli, segera menyerahkan kebun bersama segala isinya kepada penunggu kebun yang murah hati itu.
       “Aku memberikan kebun ini kepadamu, sebagai pertanda kemurahanku kepada orang-orang pemurah seperti engkau. Namun, kemurahanku ini masih amat tak berarti dibandingkan dengan kemurahanmu memberikan semua jatah makan siangmu untuk menyelamatkan nyawa seekor anjing yang kelaparan,” kata Abdullah kepada penunggu kebun.

PEMIMPIN BESAR TIDUR DI ATAS TIKAR

Oleh A. Hajar Sanusi ( PR : 13 Ramadan 1432 H / 13 Agustus 2011)
Dalam salah satu syairnya, Muhammad Iqbal menggambarkan kepribadian Rasulullah saw. Sebagai berikut : Sungguh hati Muslim dipatri cinta Nabi/Dialah pangkal mulia/Sumber bangga kita di dunia/Dia tidur di atas tikar kasar/Sedangkan umatnya mengguncangkan tahta Kisra/Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga/Sementara umatnya tidur di ranjang raja-raja.
Bait-bait di atas melukiskan zuhud Rasulullah saw. Kebersahajaan dalam kehidupan duniawi memang merupakan atribut Rasulullah saw. yang sangat mengemuka. Namun, stilah zuhud kerap disalahpahami. Tidak jarang orang memahaminya sebagai pola hidup yang menolak secara total berbagai hala yang berkaitan dengan dunia. Tengok misalnya sebagian pengamal tasawuf. Ada diantara mereka yang mengasingkan diri, hidup dalam ribat-ribat di daerah terpencil, jauh dari denyut nadi kehidupan masyarakat. Mereka tidak hirau lagi dengan masalah keduniawian. Sebab menurut mereka, dunia tidak sekedar bernilai rendah dan kotor, tetapi juga dianggap sebagai penghambat jalan spiritual menuju keridhaan Allah SWT.
Padahal, hidup zuhud tidak mesti begitu. Bahkan, yang demikian itu sedah pasti tidak akan dibenarkan Islam. Bukankan agama yang satu ini menganjurkan keseimbangan (ekuilibrium) antara dunia profan dan sakral? Bukankah Al-Quran -- sebagai sumber utama ajaran Islam – memerintahkan manusia untuk berdoa agar memperoleh kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat?
Jika demikian halnya, apa sejatinya hidup zuhud itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, elok jika kita simak pendapat Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah. Menurut sahabat yang satu ini, “Keseluruhan sifat zuhud terletak di antara dua kalimat dalam Al-Quran, yaitu firman Allah (lihat QS. Al-Hadid/57:23), yang berbunyi, Likaylaa ta’saw’alaa maa faatakum wa laa tafrahuu bimaa aataakum... (Agar kamu tidak berduka cita atas apa yang luput darimu dan tidak bersukaria atas sesuatu yang diberikan-Nya kepadamu). Barang siapa yang tidak berduka cita dan tidak bersukaria atas sesuatu yang datang, maka sesungguhnya dia telah mencakup sifat zuhud dalam arti yang sebenarnya.
Dalam kesempatan lain, Ali bin Abi Thalib mendefinisikan zuhud dengan kalimat, Anta tamliku-d dunyaa wa laa tamlikuka (Engkau memiliki dunia, tetapi dunia tidak pernah menguasaimu). Dalam pengertian inilah kita pahami sifat zuhud Rasulullah saw.
Tiga orang empu Hadis, Bukhari, Ahmad dan Ibn Majah meriwayatkan bahwa pada suatu hari Umar bin Khattab bertamu ke rumah Rasulullah saw. Sahabat sekaligus mertua itu mendapati beliau sedang duduk di atas tikar kasar dan tua. Mata Umar lantas mengamati isi ruangan, tempat ia bertemu dengan manusia agung ini. Umar tidak menemukan sesuatu apapun, kecuali yang disaksikannya, yakni tas kulit yang tergantung di dinding (untuk menyimpan beberapa genggam gandum) dan sehelai tikar yang hampir koyak itu. Saat itu, Umar tak kuasa menahan tangis. Melihat Umar menangis, Rasulullah saw. Bertanya, “Limaadza tabki, ya Ibnu-l Khaththaab (Mengapa engkau menangis, wahai putra Khattab)?” Sambil terisak, Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, ya Rasulullah! Bukankah tikar tempat duduk Anda sudah begitu tua. Lagi pula, Anda tidak menyimpan sesuatu pun, kecuali apa yang aku saksikan saat ini. Sementara di negeri sana, Kaisar (Raja Romawi) dan Kisra (Raja Persia) -- sambil bersemayam di atas singgasana -- mereka menghadapi hidangan srta buah-buahan yang lezat, lengkap dengan perangkat hidup serba mewah. Padahal bukankah Anda ini, ya Rasulullah, seorang utusan dan kekasih-Nya?” Rasulullah menenangkan Umar dengan berkata, “Afiya syakkun, anta ya Ibnu-l khaththaaab? Ulaaika qawmun ‘ujjilat lahum thayyibatahum fi-l hyaata-d dunyaa (Apakah engkau masih ragu tentang diriku, wahai putra Khattab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan balasan atas kebajikannya dalam kehidupannya di dunia ini)”.
Demikianlah pola hidup Rasulullah saw. Jika mau, gunung Uhud pernah ditawarkan kepadanya untuk diubah jadi bongkahan emas, tetapi ditolaknya. Dengan kata lain, meskipun kunci kekayaan berada di tangan, Rasulullah saw. Tetap hidup bersahaja. Inilah dia : Pemimpin  besar tidur di atas tikar kasar. Sebuah model par excellence.

Mencintai Fakir Miskin Ala Imam Zainal Abidin

Oleh A. Hajar Sanusi  (PR : 22 Ramadan 1432 H / 22 Agustus 2011)
Imam Zaenal Abidin adalah keturunan Rasulullah saw. Ia selamat dari kebiadaban tentara Yazib bin Muawiyah ketika terjadi pembantaian terhadap Imam Husain dan para sahabatnya di Padang Karbala. Waktu itu, Imam Zainal Abidin sedang sakit yang memaksa dia tetap berada dalam kemahnya.
Sejatinya, sebutan Zainal Abidin adalah gelar yang diberikan masyarakat Muslim kepada Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. Sebutan itu diperoleh cucu Fatimah al-Zahra binti Rasulullah saw. Ini karena tokoh yang satu ini selalu larut dalam pengabdian kepada Allah swt. Ia kerap kali emalkukan sujud. Karena itu pula, kulit dahi Imam tampak mengeras dan kehitam-hitaman. Bahkan tak jarang kedua telapak kaki dan tangannya membengkak lantaran berlama-lama dalam shalat.
 Selain sebutan di atas, masyarakat pun menggelarinya al Sajjad (yang amat banyak sujudnya). Putranya, Muhammad al-Baqir menjelaskan perihal sujud ayahnya, “Setiap kali ayahku teringat, atau menyebut nikmat Allah SWT, ia langsung bersujud ; Setiap kali membaca ayat-ayat Alquran yang dalamnya terdapat kata sujud, ia pun bersujud; Jika telah selesai melaksanakan shalat fardu, ia sujud juga; juga, apabila berhasil mendamaikan orang yang bertengkar, ia pun bersujud.”
Jika Imam Zainal Abidin salat malam, ia sudah tidak hirau lagi terhadap peristiwa di luar dirinya. Pernah suatu malam terjadi kebakaran di rumahnya, waktu ia sedang sujud dalam salatnya. Orang-orang di luar memanggil-manggil, “Wahai putra Rasulullah! Wahai putra Rasulullah! Api! Api sedang membakar rumah Tuan!” Namun, ia seolah-olah tidak mendengar teriakkan mereka. Hal itu tidak membuat dia bangkit dari sujudnya. Ia tetap dalam salatnya sampai api itu dapat dipadamkan. Ketika kemudian ditanyakan, mengapa ia tidak menghiraukan teriakkan-teriakkan mereka, Imam menjawab, “Api yang lebih besar dari itu (maksudnya api neraka di akhirat telah menyita seluruh perhatianku.”
Kan tetapi, harap dicatat, keasyikan dalam ibadah ritual ternyata tidak menghalangi Imam untuk menjalankan aktivitas kemasyarakatan. Untuk mudahnya, kegiatn yang disebut belakangan kita namakan saja kesalihan sosial. Seluruh aktivitas hidup Imam Zainal Abidin dapat diringkas dalam satu kalimat, “Menghambakan diri kepada Allah SWT dan berkhidmat kepada sesama manusia.”
Salah satu sifat Imam Zainal Abidin yang paling menonjol adalah kedermawanannya. Ia memang sangat pemurah. Untuk melukiskan kedermawanannya itu, seorang penyair yang termasyhur pada jamannya, Farazdaq (lihat Bagir, 1983: 57 dan 59) mengatakan, Kilta yadaihi ghiyatsun ‘amma naf’uhuma. Yustawkafani wa la ya ‘ruhuma al-‘adam. Sahl al-khaliqah la tukhsya bawadiruh. Yuzayyinuhu itsnani husn al-khulq wa al-karam. Ma qala” la” qaththillla fi tasyahhudih. Law la al-tasayhhud kana la’uhu na’am (kedua tangannya bagai hujan tercurah merata, bertebaran kebajikannya di mana-mana. Tiada keduanya hampa meski berhamburan kedermawanannya. Sederhana perangainya, tiada dikhawatirkan akibat marahnya. Kedermawanan dan akhlak mulia selalu menghiasi dirinya. Kata “tidak” tak pernah diucapkan kecuali dalam ikrar syahadat. Seandainya bukan dalam syahadat ia terpaksa, niscaya “tidak”-nya berganti dengan “ya”.
Oleh karena itu, tidak heran kalau dalam satu riwayat dikatakan, bahwa ia kerap memikul karung-karung roti dan tepung di pundaknya pada malam hari, yang kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk miskin Madinah. Lantara dilakukan di kegelapan malam, untuk sementara waktu pihak-pihak yang dibantu tidak mengenal siapa pemberi sedekah itu. Rahasia tersebut baru terbongkar setelah Imam Zainal Abidin wafat. Sejak dia meninggal dunia, kiriman berupa “sedekah malam” itu tidak pernah datang lagi.
Imam Zainal Abidin memang amat mencintai masyarakat kelas bawah. Misalnya, orang miskin, hamba sahaya, dan kaum mustadh’afin lainnya. Ia sering kali mengunjungi mereka, duduk-duduk bersamanya, serta berbincang dengan penuh ramah dan penuh kasih sayang. Jika datang seorang peminta-minta kepadanya, ia selalu menyambut dengan kata-kata, Marhaban, ya manyahmilu zadi ila al-akhirah. Artinya, “Selamat datang wahai sahabat, yang hendak memikul bekalku menuju kampung akhirat!”.
Tidak sedikt hamba sahaya yang kemudian menjalani hidup sebagai orang merdeka lantaran usha Imam Zainal Abidin. Untuk itu, terutama pada bukan suci Ramadan, ia mengeluarkan banyak uang. Ia membeli budak-budak itu dari pemiliknya untuk kemudian mereka dimerdekakan tanpa syarat. Selain itu, Imam terkenal karena perilakunya yang lembut terhadap hamba sahaya. Sekelumit kisah di bawah ii merupakan lukisan nyata dari sifat-sifat tersebut.
Suatu ketika seorang hamba sahaya membawakan cerek tempat air wudlu untuknya. Secara tidak sengaja cerek itu tiba-tiba terlepas dari tangannya dan jatuh menimpa, bahkan melukai kepala Imam Zainal Abidin. Karena takut, hamba sahaya itu segera memohon maaf seraya berkata, “Tuanku, Allah SWT telah berfirman, Wa al-khazhimin al-ghayzha (Dan orang-orang yang menahan amarahnya).” Imam menjawab, “Baiklah, sudah aku tahan amarahku.” Sahaya itu melanjutkan bacaannya, Wa al-‘afin ‘an-nas (Dan orang-orang yang memaafkan orang lain).” “Ya , baik. Kamu telah ku maafkan, “jawabnya. Sahaya itu masih terus membaca penutup ayat tersebut, yang bunyinya, Wallahu yuhibb al-muhsinin (Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan).” Setelah selesai ayat itu dibacakan, Imam kemudian mengatakan, “Baiklah, sekarang kamu bebas pergi kemana saja. Demi meraih keridaan Allah, mulai saat ini kamu telah kumerdekakan.”
Begitulah cara Imam Zainal Abidin mencintai orang-orang kecil. Ia melakukannya, tidak cukup sekadar pengajaran dalam bentuk ucapan, melainkan juga lewat keteladanan dan amal yang nyata. Mungkin ada gunanya kita mengambil pengajaran (‘ibrah) dari kisah tersebut. Terlebih lagiketika bangsa ini mengalami kelangkaan figur teladan. Mudah-mudahan.

Malaikat pun Turun Ikut Mendengarkan

Oleh Hj. Nunung Karwati (PR : 21 Ramadan 1432 H / 21 Agustus 2011)
Usaid bin Hudhair adalah seorang pemuka Madinah saat cahaya Islam belum menerangi kota itu. Mendengar Rasulullah saw. Mengirimkan Mush’ab bin Umair untuk menyebarkan agama Islam di Madinah, segera Usaid menemui Mus’ab yang saat itu sedang membaca ayat suci Al-quran.
“Apa maksud Tuan datang ke sini? Tuan hendak memengaruhi rakyat kami yang bodoh-bodoh? Pergilah Tuan sekarang, jika Tuan masih ingin hidup!” kata Usaid dengan ketus.
Hardikan itu tidak membuat Mush’ab takut. Bahkan, dengan hormat ia menjawab, “Wahai pemimpin Madinah, silahkan duduk bersama kami, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Jika Tuan suka apa yang kami bicarakan, silahkan ambil. Dan jika Tuan tidak suka, kami akan meninggalkan Tuan dan tidak kembali ke Kampung Anda ini.”
Usaid setuju, lalu mulai mendengarkan Mush’ab menjelaskan Islam sambil membaca ayat-ayat Al-quran. Tanpa terasa Nur Ilahi merasuk ke dalam hatinya. Rasa gembira terpancar di wajah Usaid. “Alangkah indahnya apa yang Tuan baca. Apa yang harus saya lakukan jika ingin memeluk Islam?” katanya lebih lanjut.
Di bawah bimbingan Mush’ab, Usaid masuk Islam. Sejak itu Usaid mencintai Al-quran, seperti orang mencintai kekasihnya. Pernah suatu malam, Usaid membaca Al-quran di kandang kudanya. Anaknya, Yahya yang masih kecil terlelap disampingnya. Saat itu, Usaid membaca surah Al-Baqarah ayat 1 – 4.
Ketika melanjutkan ayat-ayat suci tersebut, kudanya meringkik berputar-putar hampir memutuskan tali pengikatnya. Saat ia menghentikan bacaannya, kuda itupun terdiam. Usaid kembali melanjutkan membaca, dan kuda yang lainnya ikut meringkik dan berputar-putar. Sampai pada ujung ayat ke empat al Baqarah, Usaid menghentikan bacaannya, ingin tahu apa yang terjadi pada kudanya. Namun, dia tidak melihat apapun.
Usaid kembali melanjutkan bacaannya hingga ayat ke lima al Baqarah. Kudanya kembali meronta, berputar-putar lebih hebat lagi. Usaid pun kembali menghentikan bacaannya. Kudanya kembali terdiam. Demikianlah terjadi berulang-ulang. Setiap kali Usaid membaca Al-quran kudanya meronta, setiap kali Usaid diam kudanya juga diam.
Khawatir anaknya akan terinjak kuda yang berputar-putar, Usaid lantas pergi dari tempat itu membawa anaknya. Ketika itulah dia melihat ke langit, terlihat seberkas cahaya yang naik ke atas hingga akhirnya ia tak melihatny lagi.
Esok paginya, hal itu dia ceritakan kepada Rasulullah saw. Rasul bersabda, “Hai Abu Yahya, bayangan itu adalah malaikat yang turun mendengarkan engkau membaca Al-quran. Seandainya engkau teruskan bacaanmu hingga pagi, niscaya orng-orang akan melihat malaikat yang selama ini tidak bisa mereka lihat.” (H.R. Muslim)
Saudaraku, sudahkah kita membaca Al-quran hari ini? Bila belum, segeralah ambil Qalamullah tersebut, buka dan bacalah. Sebab, setiap huruf yang kita baca akan membuahkan satu kebaikan. Rasul bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, dia mendapat satu kebaikan. Dan kebaikan itu digandakaan sepuluh kali. Saya tidaka mengatakan kalau alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (H.R. Tirmidzi)
Ternyata, terbentang ribuan kebaikan di depan mata kita bila kita membaca Al-quran. Hanya, kita selalu silau dengan kehidupan dunia sehingga melupakan tuntunan dan petunjuk yang ada dalam Al-quran. Kita terlalu sibuk mencari harta dunia dan melupakan ada nilai yang sangat besardalam Al-quran.
Uqbah bin Amir menceritakan, “Saat kami berada di ash-Shuffah (teras Masjid Nabawi), Rasulullah saw. Keluar menemui kami. Lantas beliau bertanya, “Siapa diantara kalian yang suka berangkat ke Buthan atau Aqiq setiap hari kemudian datang membawa dua unta yang gemuk-gemuk?”. Kami pun menjwab, “Kmi semua menyukai semua itu, ya Rasulullah.”
Rasulullah kemudian bersabda, “Tidakkah kalian berangkat ke Masjid lalu belajar atau membaca dua ayat dari kitab Allah, itu lbih baik baginya daipada dua unta yang gemuk-gemuk. Tiga ayat lebih baik baginya dripada tiga unta, dan empat ayat lebih baik dibandingkan dengan empat unta dan beberapa unta.” (H.R. Muslim)
Saudaraku, masihkah kita malas untuk membaca Al-quran? Mari kita berlindung dari godaan setan yang terkutuk dan dari rasa malas, terutama malas membaca Al-quran. Semoga Allah memasukkan kiata pada golongan orang-orang yang mencintai Al-quran. Amin.

BAGAIMANA PROSES PERCEPATAN PENCAPAIAN HASIL BELAJAR

Adapun langkah-langkah dalam upaya percepatan pencapaian hasil pembelajaran ditempuh dengan cara-cara sebagai berikut :
1.    Ice Breaking (cipta suasana).
Di awal pembelajaran agar suasana lebih nyaman dan tidak kaku, diupayakan dengan membangun keakraban yaitu dengan pengucapan yel-yel, misalnya dengan menanyakan kepada seluruh siswa dengan ucapan apa kabar ? Dijawab oleh seluruh siswa secara serempak dengan ucapan  “luar biasa”, yes. Langkah ini ditempuh agar suasana pelaksanaan pembelajaran bisa berjalan dengan santai dan nyaman dalam artian tidak menegangkan, kaku, dan monoton. Dengan pengucapan yel-yel bisa membangun semangat dan kegairahan belajar, dan sambil diselingi dengan rasa humor, sehingga suasana lebih menarik dan menyenangkan.

2.    Penguasaan Materi Pembelajaran.
Penguasaan materi pembelajaran oleh pendidik adalah suatu keharusan kalau ingin dikatakan pedidik profesional, yang tentu saja dalam penyampaiannya selain mengacu kepada buku modul suatu bidang studi yang merupakan “subject matter”, juga harus divariasikan denagn penambahan sumber bacaan dan literatur lainnya, sehingga materi pembelajaran menjadi lebih lengkap yang pada akhirnya wawasan peserta didik menjadi bertambah dalam menerima materi pembelajaran.
Dalam hubungan ini, Dunkin dan Biddle dalam syaiful Sagala (2006) mengemukakan, bahwa “Proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik jika pendidik mempunyai dua kompetensi utama yaitu :
a.    Kompetensi materi pembelajaran atau penguasaan materi pembelajaran, dan
b.    Kompetensi metodologi pembelajaran”.

3.    Sistematika Penyajian.
Sistematika adalah tata urutan penyampaian pembelajaran di kelas seperti tahap pendahuluan (memuat penyampaian tujuan pembelajaran umum, maupun tujuan pembelajaran khusus), tahap inti (memuat substansi materi), dan tahap penutup (memuat kesimpulan dan evaluasi atau penilaian).

4.    Metode Pembelajaran.
Agar proses pembelajaran lebih bervariatif, maka pendidik bisa menggunakan berbagai metode yang divariasikan, misalnya metode diskusi kelompok divariasikan dengan seminar, bermain peran (rolle playing), dan dengan bentuk permainan (game).

5.    Pemberian Motivasi Belajar.
Motivasi adalah usaha dalam mendorng seseorang untuk melakukan sesuatu supaya lebih berhasil. Pemberian motivasi belajar oleh pendidik kepada peserta didik sangat penting, hal ini supaya rencana pembelajaran yang sudah dipersiapkan agar lebih terarah dan berhasil.
Misal caranya dengan membangkitkan persaingan, yaitu dengan permainan (game) yang dilombakan antar kelompok, dan kepada kelompok yang memperoleh kejuaraan diberikan hadiah walaupun hanya dengan pemberian pita atau bendera kecil, hal ini sebagai reward atau penghargaan kepada kelompok yang berprestasi.
6.    Pengukuran Pencapaian Tujuan Pembelajaran.
Dalam pengukuran pencapaian tujuan pembelajaran dikaitkan dengan hasil belajar atau tujuan pembelajaran umum dan indikator hasil belajar atau tujuan pembelajaran khusus. Adapun teknik  lainnya dalam pengukuran pencapaian tujuan pembelajaran yaitu dengan pemberian test di awal pembelajaran (pre test), pemberian pertanyaan atau test kepada siswa saat sedang berlangsungnya pembelajaran (embedded test), dan di akhir pembelajaran (post test).

7.    Penggunaan Sarana dan Alat Bantu Mengajar.
Untuk memberikan kejelasan dari materi pembelajaran yang disampaikan, hendaknya didukung oleh sarana dan alat bantu mengajar yaitu berupa papan tulis (white board), spidol, LCD (infocus), plif chart, dan sound system. Dengan penggunaan alat bantu mengaar tersebut, pembelajaran menjadi lebih jelas dan kongkrit.


Oleh : Drs. H. Iding Syamsuddin,MM (Widyaswara Utama/ Badiklatda Prov. Jabar)
Majalah Pendidikan Andika (Anak dan Pendidikan Kita) tahun II, Edisi 14, Juli 2011 ; hal. 34-35
Penerbit : CV. BANGKIT MANDIRI

Senin, 02 Januari 2012

Sistem dalam Memahami Apa yang Dibaca


SISTEM MEMBACA SQ3R
Membaca adalah aktivitas yang komplek dengan mengarahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Meliputi : orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat. Kita tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. Pemahaman dan kecepatan membaca menjadi amat tergantung pada kecakapan dalam menjalankan setiap organ tubuh yang diperlukan untuk itu.
Kemampuan tiap orang dalam memahami apa yang dibaca berbeda. Hal ini tergantung pada pembendaharaan kata yang dimiliki, minat, jangkauan mata, kecepatan interpretasi, latar belakang pengalaman sebelumnya, kemampuan intelektual, keakraban dengan ide yang dibaca, tujuan membaca dan keluwesan mengatur kecepatan.
Sejak lima puluh tahun terakhir para ahli psikologi pendidikan telah menyelidiki cara-cara membaca yang efisien dan mengemukakan beberapa sistem, diantaranya :
1.         SQ3R : Survey, Question, Read, Recite, dan Review.
2.         SQ4R : Survey, Question, Read, Recite, Rite, dan Review.
3.         POINT : Purpose, Overview, Interpret, Note, dan Test.
4.         OK4R : Overview, Key ideas, Read, Recite, Review, dan Reflect.
5.         RSVP : Review, Study, Verbalize, dan Preview.
Salah satu yang paling banyak dikenal orang adalah SQ3R. Secara umum sistem-sistem yang dikemukakan oleh para ahli itu memakai pendekatan yang sama yang membuat kita aktif dan bertujuan dalam menghadapi bacaan. Teknik-teknik yang diberikan dimaksudkan untuk menemukan ide pokok dan detail penting yang mendukung ide pokok serta mengingatnya lebih lama. Dalam menemukan pokok-pokok penting kita perlu menguasai pedoman kecil SQ3R.
Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. Robinson tahun 1941, merupakan sistem membaca yang semakin populer digunakan orang. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah :
1.         Survey
2.         Question
3.         Read
4.         Recite (atau recall)
5.         Review
Dalam sistem SQ3R ini, sebelum mambaca terlebih dahulu kita survey bacaan untuk mendapat gagasan umum apa yang kita baca. Lalu dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada diri sendiri yang jawabannya kita harapkan terdapat dalam  bacaan tersebut kita akan lebih mudah memahami bacaan. Dan selanjutnya dengan mencoba mengutarakan dengan kata-kata sendiri pokok-pokok pentingnya, kita akan menguasai dan mengingatnya lebih lama.

Langkah 1 : S-Survey
Survey atau prabaca adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Survey dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum yang akan dibaca dengan tujuan untuk :
1.         Mempercepat menangkap arti,
2.         Mendapatkan abstrak,
3.         Mengetahui ide-ide yang penting,
4.         Melihat susunan bahan bacaan tersebut,
5.         Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan, dan
6.         Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.
Prabaca dilakukan hanya beberapa menit, tetapi dengan cara yang sistematis kita cepat menemukan ide-ide penting dan organisasi bacaan. Hal ini akan sangat membantu mencapai tujuan kita membaca. Selain itu prabaca juga digunakan untuk melihat suatu artikel di koran atau majalah dan menimbang-nimbang buku di perpustakaan atau di toko buku untuk mengetahui :apakah tulisan atau buku ini cocok dengan kebutuhan? Tidak terlalu sulit? Atau terlalu dangkal? Apakah cocok dengan literature yang disarankan?
Survey Buku
Dalam prabaca buku, tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah memperhatikan judul buku dan mengajukan pertanyaan tentang topik yang terkandung di dalamnya. Lalu melihat nama penulis dan atributnya yang biasanya memberikan petunjuk isi tulisan. Untuk melihat aktualitasnya, lihat tahun penerbitnya. Kalau ada, baca juga sampul buku bagian belakang yang memuat pesan penerbit mengenai hal yang penting dari buku. Tahap berikutnya adalah sebagai berikut :
1.         Telusuri daftar isi,
2.         Baca pengantar,
3.         Lihat table, grafik, dll. Bagian buku ini dapat memperjelas dan mempercepat pemahaman isi buku.
4.         Apendiks. Jangan dilupakan suplemen atau apendiks yang biasanya memberi tambahan informasi yang berharga ketika kita membaca.
5.         Telusuri indeks. Dapatkan kata-kata kunci untuk mencocokkan dengan tujuan dan kebutuhan kita.
Survey Bab
Survey bab dilakukan dengan langkah-langkah berikut :
1.         Perhatikan paragraf pertama dan paragraf akhir. Kadang-kadang penulis menggunakan paragraf itu untuk menyampaikan apa yang akan dibicarakan dalam bab itu atau ringkasan dari kesimpulan bab itu.
2.         Ringkasan. Ikhtisar atau ringkasan tentang bab terkadang diberikan oleh penulis di bagian tersendiri.
3.         Subjudul. Subjudul banyak memperjelas isi bab. Dengan adanya subjudul, pembaca semakin mengetahui hubungan bagian-bagian isi buku itu.

Langkah 2 : Q-Question
Bersamaan pada saat survey, ajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan itu, dengan mengubah judul, subjudul, serta sub dari subjudul menjadi suatu pertanyaan. Gunakan kata-kata 5W+1H, seperti siapa, apa, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana. Dengan adanya berbagai pertanyaan itu cara membaca kita menjadi lebih aktif dan lebih mudah menangkap gagasan yang ada daripada kalau hanya membaca asal membaca.

Langkah 3 : R-Read
Setelah melewati tahap survey dan timbul beberapa pertanyaan yang anda harapkan akan mendapat jawaban di bacaan yang anda hadapi, langkah berikutnya adalah : Read (membaca). Jadi, membaca itu baru langkah ketiga. Cara membacapun bukan sperti cara membaca novel, hanya mengikuti apa yang sedang berlangsung, melainkan secara kritis.
Pada tahap ini, konsentrasikan pada penguasaan ide pokok serta detail yang penting, yang mendukung ide pokok. Perlambat cara membaca anda di bagian-bagian yang penting atau yang anda anggap sulit dipercepat kembali pada bagian-bagianyang tidak penting atau yang telah anda ketahui. Pada tahap membaca ini ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.         Jangan membuat catatan-catatan. Ini akan memperlambat anda dalam membaca. Selain itu juga berbahaya, catatan anda itu bisa jadi hanya mengutip kata-kata penulis saja.
2.         Jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata yang di anggap penting oleh kita. Kalau memang ada yang dianggap  penting cukup dengan memberi tanda silang di pinggir halaman dulu, kemudian nanti dapat di cek lagi.

Langkah 4 : R-Recite atau Recall
Setiap kali membaca suatu bagian, berhentilah sejenak. Dan cobalah menjawab pertanyaan bagian itu atau menyebutkan hal-hal penting dari bab itu. Pada kesempatan itu, anda dapat juga membuat catatan seperlunya. Jika masih mengalami kesulitan, ulangi membaca bab itu sekali lagi.

Langkah 5 : R-Review
Daya ingat kita terbatas, sekalipun pada waktu membaca 85% kita menguasai isi bacaan, kemampuan kita dalam waktu 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40%. Dan dalam tempo 2 minggu pemahaman kita tinggal 20%. Oleh karena itu, jangan anda lewatkan langkah terakhir ini : Review. Setelah selesai keseluruhan dari apa yang harus dibaca, ulangi untuk menelusuri kembali judul-judul dan subjudul dan bagian-bagian penting lainnya dengan menemukan pokok-pokok penting yang perlu diingat kembali. Tahap ini selain membawa daya ingat dan memperjelas pemahaman juga untuk mendapatkan hal-hal penting yang barangkali kita lewati sebelum ini.


Oleh : Dede Nora Sumirat (Mahasiswa semester 5 jurusan PGSD UPI Kampus Sumedang)
Majalah Pendidikan Andika (Anak dan Pendidikan Kita) tahun II, Edisi 15, Agustus 2011 ; hal. 6-7
Penerbit : CV. BANGKIT MANDIRI